Profil

Dr. H. Umay M. Dja’far Shiddieq, MA.

Ketua Badan Pembina YAPSI Darul ’Amal

Biografi

Sudah dua bulan tahun pelajaran 1960-1961 berjalan, sepulang mengaji dan menginap di Masjid Bojongwaru pagi itu dia merasakan perih hatinya tak terperi karena anak-anak seusianya sebentar lagi akan beramai-ramai bergerombol berjalan kaki menuju sekolah SD Bojong Genteng, yang jaraknya sekitar 2 km sementara dia hanya bisa mengurut dada sedih karena keyatiman dan kemiskinan membedakan dia dari yang lainnya, Ibunya tak sanggup memasukkan dia ke sekolah, kala itu saat memberi pakan ayam peliharaannya seakan turut merasakan perih hati anak bungsunya itu. Sore harinya ia berpesan, nanti malam nggak usah tidur di Masjid, di rumah saja, dia menjawab ‘ya’ tanpa berfikir kenapa.

Kira-kira jam 03.00 pagi dini hari dia dibangunkan ibunya dan diajaknya ke tikar shalat, rupanya ibunya selesai shalat malam dan menangisi derita hati anaknya yang ingin sekolah, lalu dua lutut ibunya dipertemukan dengan dua lututnya, seraya ibunya berujar lirih, “Nak, semua manusia lahir dengan rasa ingin mulia, manusia mulia karena kekayaannya, sedangkan kita miskin, orang mulia karena turunan raden, sedangkan kita rakyat jelata, orang mulia karena kerupawanannya, kita biasa-biasa saja, orang mulia karena kepintarannya… maka carilah ilmu, untuk kemuliaanmu… keningnya dicium, lalu dipeluk disela isak tangisnya, ibunya mengakhiri pembicaraannya dengan, ‘maafkan Ema, nggak bisa nyekolahin’.” Tidak begitu paham apa yang dikatakan ibunya, ia pun dengan terkantuk-kantuk kembali ke kamarnya lalu tidur lagi sampai shubuh tiba. Selepas shalat shubuh ia teringat sebagian dari ungkapan ibunya tadi malam “carilah ilmu untuk kemuliaanmu…” dia pikir mencari ilmu harus sekolah, maka tanpa pamit kepada ibunya lagi ia pun segera berangkat ke sekolah SD Bojong Genteng III, ditemuinya guru kelas I, waktu itu Pak Uton Bustoni, sesudah bersalaman ia memperkenalkan diri, nama “Uyun”, saya anak yatim tapi mau sekolah, itulah nama yang dia ketahui sebagaimana teman-teman sepermainan memanggilnya, belakangan dia baru tahu dari ibunya bahwa nama dia dikasih Uwa (kakak bapaknya alm) Mad Yunus tetapi terlanjur tertulis “Uyun” di buku induk, maka nama itulah yang seterusnya.

Ketika kelasVI gurunya menganjurkan agar namanya ditambah supaya tidak terlalu pendek, siapa tahu nanti jadi orang penting , seloroh Pak Obang Barnas gurunya itu karena nama itu akan ditulis dalam ijazah sambungnya lagi. Sore harinya dia bertanya nama yang cocok untuk dirinya ke Mu’alim Djamjuri di Masjid Bojongwaru, eeh… beliau menawarkan tambahan nama “Maryunani” jadilah nama dalam ijazah SD-nya Uyun Maryunani, disingkat U. Maryunani, ketika di pengajian dia sering dilatih ceramah dalam berbagai acara-acara keagamaan yang teksnya dibuatkan guru mengajinya Ust. Abdullah Mubarak, maka nama dia diberi tambahan lagi “U. Maryunani Dja’far Shiddieq”, ketika masih remaja rupanya dia termasuk penggemar karya-karya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amarullah), dia pun ikut-ikutan menyingkat namanya Uyun Maryunani menjadi Umay (tidak Umar, karena serupa dengan nama seseorang), saat memasuki PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an), Jakarta dengan Ijazah U. Maryunani, tetapi ketika memperkenalkan diri, dia menyebut dirinya Umay, maka bagian pengajaran PTIQ meyakini U. itu artinya “Umay”, maka tertulislah di Ijazah PTIQ Umay Maryunani, sesudah berkecimpung di masyarakat nama pemberian guru mengajinya itu dipakai kembali, jadilah “Umay M. Dja’far Shidieq”.

Dari sejarah namanya yang agak unik di atas, tampak dia adalah orang yang sejak kecil lebih banyak mengurus dirinya, sebagai orang yang tak pernah merasakan kasih sayang bapaknya, yang meninggal saat dia dikandung ibunya 4 bulan, dia menjadikan ibunya sebagai sumber do’a, sumber rahmat Allah, sumber ridha-Nya, serta sumber motivasi dan kekuatan, dia pernah berujar, pengalaman  yang paling berkesan adalah saat dia menggandeng tangan ibunya yang keriput saat thawaf mengitari Ka’bah tahun 1993.

Lahir di sebuah rumah nenggang tengah sawah, Kampung Bakanjati, Desa Bojong Genteng, +/- 110 km selatan kota Sukabumi, tak ada catatan resmi tentang tanggal tepat kelahirannya, hanya dalam ijazah SD nya tertera tanggal 7 Juli 1954, dia tamat SD Bojong Genteng tahun 1967, dia sangat berhutang budi atas jasa kepala SD Bapak Karta Soedarma yang membebaskan ia dari iuran sekolah. Tamat PGA 4 tahun al-Ma’arif Jampang Kulon tahun 1971, di sini ia berhutang budi atas kebaikan Pak Dindin Saefudin yang juga membebaskan dia dari SPP. Keinginan yang kuat untuk meneruskan sekolah, sekitar 86 km hutan Pasir Piring dia tempuh dengan jalan kaki, karena takada ongkos naik bis ke Sukabumi, yang akhirnya atas kemurahan hati KH. E. Fachrudin Masthura, dia diterima di pesantren Tipar dan Tamat Madrasah ‘Aliyah al-Masthuriyyah, Tipar Sukabumi 1974, sepanjang di Al-Masthuriyyah inilah dia sangat berhutang budi atas perhatian dan kasih sayang keluarga KH. Moh. Sanusi (alm), lalu mondok di Pesantren Salafy Siqayaturrahmah, bimbingan KH. M. Mudrikah Hanafi, di selajambu, Sukabumi 1975-1976, tamat PTIQ 1983, selama kuliah di PTIQ dia seperti mendapat orang tua angkat Kel. Moh. Djubaedy Soelaiman, setamatnya menjadi Dosen Tafsir & Hadits Ahkam di almamaternya sampai tahun 1990, tahun 1984 ia kuliah lagi di IAIN Jakarta  Fakultas Syari’ah, Jurusan Peradilan Agama, atas kebaikan Kel. Mayjen Pol. Drs. H. Soedarto, dan selesai tahun 1987, pada tahun 1996 atas kebaikan Kel. Mayjen Dr. H. Loet Affandi dapat menyelesaikan S-2 (Strata-2) Pendidikan Islam dari Pascasarjana UMJ tahun 1999, dan atas saran guru tercintanya Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA. Ia melanjutkan studi S-3 nya di PPs Universitas Negeri Jakarta (UNJ) jurusan Manajemen Pendidikan, juga atas kemurahan hati Kel. Dr. H. Loet Affandi.

Sejak masih kuliah di PTIQ tahun 1982 dia mulai merintis menyelenggarakan Pengajian bulanan di kampungnya, dengan jumlah peserta pengajian pertama hanya 8 orang, dia tekuni sebulan sekali turun naik bis dari Jakarta mensosialisasikan idenya membangun desa melalui sosial pendidikan,  dalam masa 10 tahun ia ubah mushalla kecil ukuran 4×6 m menjadi masjid dengan ukuran 12 x 8 m, 10 tahun kemudian tepatnya, januari 1982 dengan  5 orang Pendiri mendirikan Yayasan Pendidikan & Sosial Islam (YAPSI) Darul ‘Amal, kini 2005 sudah memiliki luas tanah 54.000 m (5,4 ha), Masjid Biru ukuran 30 x 29 m berdiri megah tiga lantai, sekolah SMP & SMA tiga lantai dengan 18 lokal kelas, tiga unit asrama semuanya dua lantai, peserta didik hampir 500 anak, dari mulai TK, MI, SMP, SMA dan Pesantren, Toko Ribhi Barka, Unit Pertanian dan Peternakan, jama’ah Mudzakarah bulanan rata-rata diikuti 300-400 jama’ah setiap ahad pertama di bulan Miladiyah.

Tahun 1979 tepatnya 1 Oktober 1979 dia menikahi tambatan hatinya sejak di PGA Lily Yulifah putri ke enam Mu’alim E. Djuaeni seorang Imam Besar Masjid Kaum Jampang Kulon, dan dikaruniai 3 putra dan seorang putri. Tahun 1990 dia dipercaya menjadi Direktur Masjid Jami’ YARSI, dikelolanya masjid itu dengan Manajemen modern, sehingga tahun 1994 terpilih menjadi masjid teladan tingkat DKI, ia pangku amanat Allah mengurus rumah-Nya itu sampai tahun 1996, dan pada bulan oktober tahun itu juga ia mendirikan Yayasan Da’wah dan Sosial Islam Al-‘Urwatul Wutsqa (YADSI-UW), yang bergerak dalam menyelenggarakan Tafhim Al-Qur’an, kini terdapat 24 kelas  yang tersebar di Jakarta, dan bersama rekannya di PTIQ Drs. Mustari membuka Cabang Yayasan di Tegal Molyo, Klaten, Jawa Tengah, yang menyelenggarakan Madrasah Diniyah, TPQ Nurul Akbar, dan Pesantren Tahfidzul Qur’an, dan melalui anak asuh kepercayaannya Ust. H. Hafidzi, tahun 1997 dibuka cabang YADSI UW yang kedua di Dusun Ngantirejo, Desa Beruk Karang Anyar dengan memberdayakan 13 orang ustadz yang tersebar di sekitar Kecamatan Jatiyoso, dan Tawangmangu, mengelola 11 TPQ dan beberapa Majlis Ta’lim, direncanakan di tempat itu akan dibangun Pesantren Terpadu.

Tahun 1998 Bapak angkatnya Kel. Dr. Loet Affandi mendirikan yayasan Al-Ma’sum Mardiyah di Desa Galudra, Cugenang, Cianjur, dan di tempat itu dia menyelenggarakan Pesantren Terpadu al-Ma’shum Mardiyah, kini santrinya 360 terdiri dari putra dan putri.

Pada tahun 2000 tepatnya 26 Juni 2000 masyarakat Rawasari secara aklamasi mempercayakan dia menjadi Ketua Umum Masjid Jami’ Rawasari, sebuah Masjid tua di kawasan Rawasari, Jakarta Pusat, dan pada tahun itu pula dia bentuk Badan Hukum Yayasan Masjid Jami’ Rawasari, kini Yayasan itu membangun Masjid al-Nizham 24 x 26 M 3 lantai, menyelenggarakan TPQ & TKI Al-Rawdhah, dan Toko Al-Barka.

Sebagai hamba Allah yang memutuskan jalan hidupnya dengan tidak bekerja di instansi pemerintahan maupun swasta, dan juga tidak aktif di organisasi politik maupun masa, ia mandiri bergerak di bidang da’wah dan sosial pendidikan dia merasakan betapa besar peran jama’ah pengajian Kursus Tafhim Al-Qur’an baik untuk pembangunan proyek-proyek fisiknya, maupun sebagai donator tetap dari anak-anak asuhnya, dan ujarnya “tanpa melebihkan yang satu atas yang lainnya, dia tidak dapat melupakan munfiqin-munfiqin berikut; Kel. Deddy Brhamim, Kel. Ismaildin Wahab, Kel. Ismail Akbar, Kel. Salman Harahap, Kel. Dr. Loet Affandi, Kel. Muchtar Purbaya, Kel. Saeful Amir, Kel. Soni Dwi Harsono, Kel. Saleh Gunawan, Kel. Vence Raharjo, Kel. Amril Adnan, Kel. Sudarmadi, Keluarga Besar putri-putri dan para menantunya Anas Latif, Kel. Bennyamin Saus dan yang lain-lainnya.”

Selain sering menjadi pengisi mimbar agama Islam di beberapa stasiun televisi, serta melayani ceramah-ceramah agama di berbagai kesempatan, pada tahun 2005 dan beberapa koleganya dia mendirikan CV. Al-Ghuraba yang bergerak di bidang penerbitan buku, dia punya niatan akan mengisi sisa umurnya dengan menulis buku-buku agama sebagai kelanjutan dari pembinaan pengajian-pengajian yang selam ini ia jalani.

Bersama istri penopang jihadnya ia kelola beberapa yayasan dan dia asuh beberapa pesantren dari kediamannya di Jalan Rawasari Barat 8 Nomor E.142 C, Kel. Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat.